Ssup! kalian tahu tarian Dikir Puteri ngga sih? tarian ini berasal dari Provinsi Riau lho! kepoin yuk latar belakang dari tarian Dikir Puteri.


A. Asal/Sejarah Kesenian Daerah 

Tarian Dikir Puteri merupakan salah satu warisan budaya dari Provinsi Riau yang memiliki nilai religius dan sosial yang kuat. Berakar dari tradisi Islam Melayu, tarian ini awalnya berkembang di lingkungan masyarakat pesisir yang kental dengan ajaran agama dan nilai kebersamaan.

"Dikir" sendiri berasal dari kata zikir yang berarti mengingat Tuhan, sedangkan "Puteri" merujuk pada pelaku tari yang semuanya perempuan. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam acara keagamaan, peringatan hari besar Islam, atau kegiatan sosial sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada tradisi leluhur. Gerakan dalam tarian Dikir Puteri memadukan elemen zikir, nyanyian pujian, serta irama rebana yang khas, menciptakan suasana sakral sekaligus meriah.

Selain sebagai media hiburan, tarian ini berfungsi sebagai sarana dakwah dan mempererat hubungan antar masyarakat. Nilai kebersamaan, kerja sama, dan kesopanan sangat dijunjung tinggi dalam pelaksanaan tarian ini.


B. Tujuan dan Manfaat Kegiatan 

Melalui pelaksanaan tarian Dikir Puteri dalam kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dengan tema Bhinneka Tunggal Ika, terdapat beberapa tujuan dan manfaat yang ingin dicapai, antara lain:

  • Menanamkan Nilai Persatuan dalam Keberagaman
  • Melestarikan Kesenian Tradisional
  • Mengembangkan Karakter Positif
  • Meningkatkan Kreativitas dan Keterampilan Seni

Tarian Dikir Puteri menjadi simbol harmoni antara budaya dan agama dalam masyarakat Melayu Riau. Dengan memperkenalkan tarian ini, peserta didik dapat memahami pentingnya menghargai perbedaan sebagai kekuatan bangsa.

Kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali kecintaan terhadap seni daerah yang mulai terlupakan. Melalui pembelajaran langsung, generasi muda dapat menjadi agen pelestari budaya.

Nilai-nilai seperti kerja sama, kedisiplinan, dan tanggung jawab tercermin dalam proses latihan dan pertunjukan. Selain itu, peserta juga belajar tentang pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas bangsa.

Melalui tarian ini, siswa dapat mengasah keterampilan dalam menari, bermusik, dan menciptakan koreografi sederhana yang tetap menjaga keaslian budaya.


C. Teknis Pelaksanaan 

Agar kegiatan berjalan efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan, berikut teknis pelaksanaan proyek:


  • Persiapan Kegiatan

Koordinasi Tim: Membentuk panitia pelaksana yang melibatkan guru seni, pembimbing P5, dan perwakilan siswa. Pemilihan Peserta: Siswa perempuan dipilih sebagai penari utama, sedangkan siswa lainnya dapat terlibat sebagai pemain musik (rebana) atau tim pendukung. Pengumpulan Informasi: Mengundang narasumber seperti seniman lokal atau budayawan Riau untuk memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah dan makna tarian Dikir Puteri. 


  • Latihan dan Pembekalan

Materi Teori: Pengenalan tentang sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung dalam tarian. Praktik Tari: Latihan gerakan dasar, pengenalan irama musik, serta latihan kelompok untuk membangun kekompakan. Pembuatan Kostum dan Properti: Siswa didorong untuk berkreasi membuat kostum sederhana sesuai adat Melayu serta properti pendukung seperti rebana. 


  • Pelaksanaan Pentas Seni

Lokasi Acara: Aula sekolah atau ruang terbuka yang memungkinkan penonton menyaksikan dengan nyaman. Rangkaian Acara: Pembukaan (Sambutan dari Kepala Sekolah) Penjelasan singkat tentang tarian Dikir Puteri Penampilan tarian oleh siswa Diskusi singkat tentang nilai keberagaman dan pelestarian budaya Dokumentasi: Proses kegiatan dan pertunjukan didokumentasikan untuk laporan dan arsip sekolah. 


  • Evaluasi dan Refleksi

Mengadakan sesi refleksi pasca kegiatan untuk mendiskusikan pengalaman siswa, nilai yang didapat, serta potensi pengembangan kegiatan serupa di masa depan. Memberikan penghargaan kepada peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan kerja keras mereka. Kesimpulan 

Tarian Dikir Puteri bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur masyarakat Melayu yang selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk lebih mengenal warisan budaya, menanamkan nilai persatuan, dan memperkuat identitas bangsa.

Dengan menjaga tradisi dan mengintegrasikannya dalam pendidikan, generasi muda tidak hanya menjadi pelestari budaya, tetapi juga pembawa semangat keberagaman yang memperkokoh persatuan Indonesia.


D. Dokumentasi Kegiatan

(25 Februari 2025).